Beranda > Teori Hukum > METODE ETNOGRAFI

METODE ETNOGRAFI

 Metode Etnografi 

A.   Pendahuluan

Dalam bangunan disilin hukum, ilmu-ilmu hukum bukan hanya ilmu hukum normatif tetapi juga ilmu hukum empirik. Meuwissen, menjelaskan bahwa dalam pengembanan ilmu hukum salah satu aspeknya adalah pengembanan hukum teoritikal.[1] Pengembanan hukum teoritikal adalah kegiatan akal budi untuk memperoleh penguasaan intelektual atas hukum atau pemahaman hukum secara ilmiah.[2] Pengembanan hukum secara teoritikal dibedakan atas 3 (tiga) hal yakni ilmu-ilmu hukum, teori hukum dan filsafat hukum. Ilmu-ilmu hukum merupakan ilmu yang  paling rendah abstraksinya. Ilmu-imu hukum terdiri atas ilmu hukum normatif dan ilmu hukum emprik.

Ilmu hukum normatif, disebut pula dengan istilah dogmatikal hukum (Rechtsdogmatiek) istilah lainnya ilmu hukum praktikal atau ilmu hukum postif. Fokus kajiannya adalah pada hukum yang berlaku das Solleh-Sein.[3] Ilmu hukum empiris mempelajari hukum sebagai perikelakuan atau sikap tindak. Mempelajari hukum dengan pendekatan eksternal, yakni bearti titik tolaknya mengamati berlakunya hukum di dalam masyarakat, fokus kajiannya adalah pada hukum yang berlaku Das sein-Sollen. Ilmu tentang kenyataan terdiri dari: Sosiologi Hukum, Antropologi Hukum, Psikologi Hukum, Perbandingan Hukum dan Sejarah Hukum.[4]

Dari pendapat tersebut, berarti Ilmu-ilmu hukum tidak hanya mempelajari hukum postif saja, ilmu hukum mempelajari ilmu-ilmu diluar hukum dengan titik tolak hukum. Bahkan, sekarang ini beberapa ahli hukum berpendapat bahawa hukum tidaklah bebas nilai, kosep teori muni tentang hukum tidak dapat menjawab permasalahan hukum. Oleh karena itu, dalam perumusan suatu norma hukum sebelum norma sah sebagai hukum postif, beberapa ahli hukum menilai perlu dilakukan pengkajian hukum secara empiris baik dengan pendekatan sosiologis, atropologis atau yang lainnya. Maka, metode penelitian diluar hukum mejadi penting untuk di pelajari. Berkaitan dengan tulisan ini, penulis mencoba membahas metode penelitian yang digunakan dalam ilmu antropologi, yang kemudian dianalisa terhadap beberapa contoh penelitian hukum. Penulis menyimpulkan bahwa metode tersebut dapat digunakan dalam melakukan penelitian hukum bahkan dapat meperoleh data yang dalam dan memberikan solusi yang nyata.

B.   Penelitian Lapangan (Field Research)

Menurut Kanneth D. Bailey istilah studi lapangan merupakan istilah yang sering digunakan bersamaan dengan istilah studi etnografi (ethnographic study atau ethnography).[5] Lawrence Neuman juga menjelasakan bahwa penelitian lapangan juga sering disebut etnografi atau panelitian participant observation.[6] Akan tetapi, menurut Neuman etnografi hanyalah merupakan perluasan dari penelitian lapangan. Etnografi mendefinisikan kembali bagaimana penelitian lapangan harus dilakukan. [7]  Menurut Roice Singleton, penelitian lapangan berasal dari dua tradisi yang terkait yakni antropologi dan sosiologi, dimana etnografi merupakan studi antropologi dan etnomethodologi merupakan studi sosiologi.[8] Etnografi memberikan jawaban atas pertanyaan apakah budaya suatu kelompok individu, sedangkan etnomethodologi memberikan jawaban atas bagaimanakah orang memahami kegiatan mereka sehari-hari sehingga mereka dapat berprilaku dengan cara yang diterima secara sosial.[9]

Menurut Neuman penelitian lapangan merupakan penelitian kualitatif di mana peneliti mengamati dan berpartisipasi secara langsung dalam penelitian skala sosial kecil dan mengamati budaya setempat.[10] Banyak mahasiswa senang dengan penelitian lapangan karena terlibat langsung dalam pergaulan beberapa kelompok orang yang memiliki daya tarik khas. Tidak ada matematika yang menakutkan atau statistik yang rumit, tidak ada hipotesis deduktif yang abstrak. Sebaliknya, adanya interaksi sosial atau tatap muka langsung dengan “orang-orang yang nyata” dalam suatu lingkungan tertentu.[11]

Dalam penelitian lapangan, peneliti secara individu berbicara dan mengamati secara langsung orang-orang yang sedang ditelitinya. Melalui interaksi selama beberapa bulan atau tahun mempelajari tetang mereka, sejarah hidup mereka, kebiasaan mereka, harapan, ketakutan, dan mimpi. Peneliti bertemu dengan orang atau komunitas baru, mengembangkan persahabatan, dan menemukan dunia sosial baru, hal ini sering dianggap menyenangkan. Akan tetapi, penelitian lapangan juga memakan waktu, menguras emosional, dan kadang-kadang secara fisik berbahaya.[12]

Kapan sebaiknya kita menggunakan penelitian lapangan? Penelitian lapangan dilakukan ketika pertanyaan penelitian mencakup belajar tentang, memahami, atau menggambarkan interaksi sekelompok orang. Hal ini biasanya dilakukan jika pertanyaannya adalah: Bagaimana orang Y di dunia sosial? atau Seperti apakah dunia sosial dari X? Hal ini dapat digunakan ketika metode lain (misalnya, survei, eksperimen) dianggap tidak praktis. Douglas menyatakan bahwa sebagian dari apa yang peneliti sosial benar-benar ingin belajar, dapat dipelajari hanya melalui keterlibatan langsung seorang peneliti di lapangan.[13]

C.   Etnografi

Etnografi berasal dari budaya anthropology.[14]  Etno berarti orang atau bangsa, sedangkan graphy mengacu pada menggambarkan. Jadi etnografi berarti menggambarkan suatu budaya dan cara lain memahami cara hidup dari sudut pandang asli.[15] Hal ini berarti, peneliti yang menggunakan penelitian etnografi berusaha memahami budaya atau aspek-aspek budaya melalui serangkaian pengamatan dan penafsiran prilaku manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya. Etnografi secara modern diperkenalkan oleh Franz Boas dan Bronislaw Malianowski, sebelumnya etnografi digunakan untuk memberikan kesaksian dari penjelajah, misionaris, dan pencarian data pejabat kolonial.[16]

Etnografi mengasumsikan bahwa seorang peneliti dalam membuat kesimpulan, melampaui apa yang dilihat atau dikatakan secara eksplisit dari apa yang dimaksud atau tersirat. Dengan kata lain, pengamatan tidak dilakukan dipermukaan tetapi dilakukan dengan pengkajian yang mendalam. Antropolog Clifford Geertz menyatakan bahwa bagian penting dari etnografi adalah deskripsi yang kaya, penjelasan yang spesifik dan rinci (sebagai lawan dari ringkas, standar, dan general).[17] Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil tersebut seorang peneliti harus dapat hidup secara khusus dalam waktu yang lama di dalam suatu komunitas sosial.

Etnografi oleh Spradley dan McCurdy didefinisikan sebagai “Tugas menggambarkan kebudayaan tertentu.” Sebagaimana telah dijelasakan di atas, Etnografi adalah metode utama yang digunakan oleh antropolog budaya untuk mempelajari kebudayaan yang relatif primitif. Namun, metode etnografi juga dapat digunakan dalam masyarakat yang kompleks seperti kelompok-kelompok dalam masyarakat kota yang memiliki kelompok subkultur tersendiri. Sejumlah contoh lain dari etnografi perkotaan sebagaimana dilakukan oleh Spradley dan McCurdy (1972), termasuk etnografi dari sebuah toko perhiasan perkotaan, orang tua, pramugari maskapai penerbangan, dan pemadam kebakaran.[18] Patton mengutip pendapat Agar, menegaskan bahwa metode etnografi dalam antropologi medern digunakan untuk mempelajari masyarakat kontemporer dan masalah-masalah sosial, seperti kecanduan.[19]

Karena tujuan dari metode etnografi untuk menggambarkan budaya tertentu, etnografi pada umumnya hanya memiliki beberapa hipotesis dan tidak ada kuesioner terstruktur.[20] Bahkan, menurut Flood seorang peneliti yang menggunakan penelitian etnografi tidak wajib menyusun kerangka teori terlebih dahulu. Peneliti tidak mengetahui dengan persis hasil dari sebuah penelitian, peneliti dapat menampilkan pernyataan teoritis baru saat proses peneltian berlangsung. Gaya bergulir dalam melahirkan teori ini disebut Flood “organisational epistemologi”.[21]

Tujuan penelitian etnografi adalah untuk menggambarkan budaya atau subkultur dengan serinci mungkin, termasuk bahasa, adat istiadat, nilai-nilai, upacara keagamaan, dan hukum.[22] Berarti secara umum penelitian etnografi memiliki tujuan menemukan dan menggambarkan budaya suatu masyarakat atau organisasi tertentu. Fokus penelitiannya adalah pola-pola yang tercermin dalam sikap tidak dan prikelakuan masyarakat atau organisasi yang diteliti. Adapun yang dicari dalam penelitian ini berarti bukan hal yang tampak, melainkan yang terkandung dalam hal yang nampak tersebut.

Penelitian etnografi berfokus pada pertanyaan: “Apakah budaya sekelompok orang”, maka metode utama ahli etnografi adalah observasi dalam tradisi antropologi.[23]Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilakukan intensif di mana peneliti terbenam dalam budaya yang diteliti.[24] Hal ini berarti peneliti masuk dalam budaya yang diteliti atau sering disebut dengan in depth studies. Gagasan budaya merupakan inti etnografi. Asumsi penting penelitian etnografi adalah bahwa setiap kelompok manusia secara bersama-sama untuk jangka waktu tertehtu akan berkembang budaya. Budaya adalah kumpulan pola perilaku dan keyakinan yang merupakan “standar untuk memutuskan apa yang ada, standar untuk menentukan apa yang dapat, standar untuk menentukan bagaimana seseorang merasa tentang suatu hal, standar untuk memutuskan apa yang harus dilakukan tentang suatu hal, dan standar untuk memutuskan bagaimana untuk melakukan hal itu”.[25]

Umumnya penelitian etnografi mensyaratkan seorang peneliti yang berpengalaman, peneliti harus dapat membenamkan dirinya dalam budaya masyarakat yang ia teliti. Bahkan, tujuan peneliti dalam studi etnografi sebenarnya untuk bersosialisai dirinya sendiri ke dalam budaya yang ia mencoba untuk dijelaskan. Peneliti mencoba untuk melupakan apa yang ia telah diajarkan oleh budaya sendiri dan menjadi bagian dari budaya yang ia pelajari, bahkan hal ini menjadi masalah ketika ia kembali kepada kebuadayaan semula.[26] Jelas, tidak semua orang umumnya dapat sepenuhnya bersosilisasi. Oleh karena itu, didalam kenyataannya suku, masyarakat, atau subkultur yang dipelajari dapat tidak menerima kehadiran peneliti (orang luar) dan tidak diperbolehkan menjadi bagain kelompok tersebut secara  penuh bahkan tidak diijinkan tinggal di antara mereka.

Hal ini berarti seorang yang akan melakukan penelitian etnografi harus memiliki latar belakang pengetahuan yang menunjang penelitiannya, mengetahui dengan jelas obyek yang akan diteliti atau dipelajari. Peneliti juga harus mengetahi cara melakukan penelitian agar diperoleh hasil yang sesuai dengan situasi yang sebenarnya. Untuk mendapatkan data yang lengkap dan mendalam tentang apa yang diteliti, peneliti harus terjun dalam kehidupan masyarakat yang diteliti, dan sebagaimana telah di jelasakan diatas sering membutuhkan jangka waktu yang panjang.

Etnografi pada hakikatnya bertujuan untuk menguraikan budaya tertentu secara holistik,[27] yaitu aspek budaya baik spiritual maupun material. Uraian tersebut kemudian akan mengungkapkan pandangan hidup dari sudut pandang penduduk setempat. Selain analisis data yang dilakukan secara holistic -bukan parsial, ciri-ciri lainnya dari penelitian etnografi adalah: (a) sumber data bersifat ilmiah, artinya peneliti harus memahami gejala empirik (kenyataan) dalam kehidupan sehari-hari; (b) peneliti sendiri merupakan instrumen yang paling penting dalam pengumpulan data; (c) bersifat menggabarkan (deskripsi), artinya, mencatat secara teliti fenomena budaya yang dilihat, dibaca, lewat apa pun termasuk dokumen resmi, kemudian mengkombinasikan, mengabstrakkan, dan menarik kesimpulan; (d) digunakan untuk memahami bentuk-bentuk tertentu (shaping), atau studi kasus; (e) analisis bersifat induktif; (f) di lapangan, peneliti harus berperilaku seperti masyarakat yang ditelitinya; (g) data dan informan harus berasal dari tangan pertama; (h) kebenaran data harus dicek dengan dengan data lain (data lisan dicek dengan data tulis); (i) orang yang dijadikan subyek penelitian disebut partisipan (buku termasuk partisipan juga), konsultan, serta teman sejawat; (j) titik berat perhatian harus pada pandangan emik, artinya, peneliti harus menaruh perhatian pada masalah penting yang diteliti dari orang yang diteliti, dan bukan dari etik; (k) dapat menggunakan data kualitatif maupun kuantitatif, namun sebagian besar menggunakan kualitatif. [28] Berdasarkan ciri-ciri tersebut, dapat dipahami bahwa etnografi merupakan model penelitian budaya yang khas.

 John Lofland menggambarkan unsur-unsur kunci dalam strategi penelitian etnografi, yakni:[29] Generic Propositions. Ahli etnografi pada akhirnya berkomitmen untuk membangun proposisi umum mengenai pola-pola kehidupan sosial manusia. Beberapa pola-pola ini adalah deskriptif (seperti frekuensi kejadian tertentu) dan penjelasan (seperti apa yang menyebabkan beberapa jenis perilaku). Unfettered Inquiry. Peneliti lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya memiliki pandangan bahwa segala sesuatu adalah permainan yang adil. Dan, Deep Familiarity. Sedapat mungkin peneliti menempatkan diri pada posisi orang yang ingin dipahami.

Ada 2 (dua) pijakan teoritis yang memberikan penjelasan tentang model etnografi, yiatu interaksi simbolik dan aliran fenomonologi.[30] Menurut Spradley dalam teori interaksi sibolik, budaya dipandang sebagai sistem simbolik dimana makna tidak berada dalam benak manusia, tetapi simbol dan makna itu terbagi dalam aktor sosial (di antara, bukan di dalam, dan mereka adalah umum, tidak mempribadi).[31]

Budaya adalah lambang-lambang makna yang terbagi (bersama). Budaya juga merupakan pengetahuan yang didapat seseorang untuk menginterpretasikan pengalaman pengalaman dan menyimpulkan perilaku sosial. Teori ini mempunyai tiga premis, yaitu (1) tindakan manusia terhadap sesuatu didasarkan atas makna yang berarti baginya, (2) makna sesuatu itu diderivasikan dari atau lahir di antara mereka dan (3) makna tersebut digunakan dan dimodifikasi melalui proses interpretasi yang digunakan manusia untuk menjelaskan sesuatu yang ditemui.[32]

Ketiga premis ini kemudian dikembangkan menjadi ide-ide dasar dari interaksi simbolik. Menurut Poloma ide-ide dasar itu menyebutkan bahwa (a) masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi dan membentuk apa yang disebut organisasi atau struktur sosial (b) interaksi yang berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan manusia lain ini bisa merupakan non-simbolik bila mencakup stimulus respon yang sederhana, ataupun simbolik mencakup “penafsiran tindakan”; (c) obyek itu sendiri tidak memiliki makna intrinsik, makna lain merupakan produk interaksi simbolik, artinya dunia obyek “diciptakan, disetujui, ditransformir, dan dikesampingkan” lewat interaksi simbolik; (d) bahkan manusia sendiri tidak mengenal obyek eksternal, mereka dapat melihat dirinya sebagai obyek, pandangan hidup terhadap dirinya ini lahir saat proses interaksi simbolik (e) tindakan manusia itu merupakan tindakan interpretatif yang dibuat oleh manusia itu sendiri, dan (f) tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok, dan menjadi tindakan bersama.[33]

Penelitian etnografi dengan landasan pemikiran fenomenologi menurut Michael H. Agar dan Giddens adalah inti dari proses mediasi kerangka pemaknaan. Hakekat dari suatu mediasi tertentu akan bergantung dari hakekat tradisi dimana terjadi kontak selama penelitian lapangan.[34]

LeCompte dan Schensul menjelaskan langkah-langkah umum yang dapat diterapkan dalam penelitian etnografi: (1) Temukan informan yang tepat dan layak dalam kelompok yang dikaji; (2) Definsikan permasalahan, isu, atau fenomena yang akan dieksplorasi; (3) Teliti bagaimana masingmasing individu menafsirkan situasi dan makna yang diberikan bagi mereka; (4) Uraikan apa yang dilakukan orang-orang dan bagaimana mereka mengomunikasikannya; (5) Dokumentasikan proses etnografi; (6) Pantau implementasi proses tersebut; (7) Sediakan informasi yang membantu menjelaskan hasi riset.[35]

D.  Kelebihan dan kelemahan Etnografi

Berdasarkan penjelasan pada sub bagian diatas, dapat ditarik kesimpulan kelebihan dan kelemahan penelitian etnografi, yakni:

1.     Kelebihan

Salah satu aspek yang paling berharga yang dihasilkan dari penelitian etnografi adalah kedalamannya. Karena peneliti berada untuk waktu yang lama, peneliti melihat apa yang dilakukan orang serta apa yang mereka katakan. Peneliti dapat memperoleh pemahaman yang mendalam tentang orang-orang, organisasi, dan konteks yang lebih luas.[36] Peneliti lapangan mengembangkan keakraban yang intim dengan dilema, frustrasi, rutinitas, hubungan, dan risiko yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kekuatan yang mendalam dari etnografi adalah yang paling “mendalam” atau “intensif”. Dari pengetahuan tentang apa yang terjadi di lapangan dapat memberikan informasi penting untuk perumusan asumsi penelitian.[37] Secara singkat keuntungan pengunaan penelitian etnografi dijelaskan di bawah ini, sebagai beriku:

-      Mengasilkan pemahaman yang mendalam. Karena yang dicari dalam penelitian ini bukan hal yang tampak, melainkan yang terkandung dalam hal yang nampak tersebut

-      Mendapatkan atau memperoleh data dari sumber utama yang berarti memiliki tingkat falidasi yang tinggi.

-      Mengasilkan deskripsi yang kaya, penjelasan yang spesifik dan rinci.

-      Peneliti berinteraksi langsung dengan masyarakat sosial yang akan diteliti.

-      Membatu kemapuan beinteraksi karena menutu kemampuan bersosialisai dalam budaya yang ia coba untuk dijelaskan.

 2.     Kelemahan

Salah satu kelemahan utama penelitian etnografi adalah bahwa dibutuhkan lebih lama daripada bentuk penelitian lainnya. Tidak hanya membutuhkan waktu lama untuk melakukan kerja lapangan, tetapi juga memakan waktu lama untuk menganalisis materi yang diperoleh dari penelitian. Bagi kebanyakan orang, ini berarti tambahan waktu.[38] Kelemahan lain dari penelitian etnografi adalah bahwa lingkup penelitiannya tidak luas. Etnografi sebuah studi biasanya hanya satu organisasi budaya. Bahkan keterbatasan ini adalah kritik umum dari penelitian etnografi, penelitian ini hanya mengarah ke pengetahuan yang mendalam konteks dan situasi tertentu.[39] Secara singkat kelemahan pengunaan penelitian etnografi dijelaskan di bawah ini, sebagai beriku:

-         Menutu seorang peneliti yang memiliki latar belakang pengetahuan yang kuat, mengetahui dengan jelas subyek yang akan diteliti atau dipelajari.

-         Perspektif pengkajian kemungkinan dipengaruhi oleh kecenderungan budaya peneliti.

-         Membutuhkan jangka waktu yang panjang untuk mengumpulkan data dan mengelola data.

-         Pengaruh budaya yang diteliti dapat mepengaruhi psikologis peneliti, ketika peneliti kembali kebudaya asalnya.

-         Peneliti yang tidak memiliki kemapuan sosialisai, terdapat kemungkinan penolakan, dari masyarakat yang akan diteliti.

E.  Etnografi dalam penelitian Hukum

Penelitian hukum dapat pula dilakukan dengan metode etnografi, hal tepenting titik tolaknya tetap mengakaji tentang hukum. Terdapat beberapa hal pentingnya penelitian hukum menggunakan metode etnografi yakni:[40]

  1. Untuk dapat menemukan bagaimana hukum berkerja dan terajut dalam hidup keseharian penegak hukum.
  2. Untuk mengetahui bagaimana warga masyarakat bergaul dengan hukum, memberimakna dan interpretasi terhadap hukum atau lembaga tertentu.
  3. Untuk mengenatahui spirit dari peraturan perundang-undangan, kepentingan dan relasi kuasa yang tarik menarik yang menjadi latar belakang proses perumusannya.

Selain itu, menurut Flood, antropologi hukum menggambarkan dua hal penting. Pertama, hukum bukanlah suatu yang dipaksakan dari atas, terutama dari negara. Kedua, para atropologi meneliti dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan penelitian konvensional para ahli hukum. Para antropolog merasa penting untuk berjumpa dengan orang-orang dan menggali pengalaman kehidupan keseharian mereka yang menjadi subyek penelitian.[41]

Penelitian enografi sebagaimana dijelasakan diatas dapat dilakukan terhadap suatu budaya bersifat etnik atau mempelajari subkultur dari suatu masyarakat moderen. Dalam bidang hukum penelitian enografi yang mempelajari suatu budaya tertentu dapat dilakukan untuk meneliti hukum adat masyarakat tertentu, misanya mekanisme penyelesaian sengketa adat dalam masyarakat Minangkabau atau Tanah Batak. Untuk, penelitian subkultur dapat dicontohkan di bawah ini, sebagai berikut:

-       Penelitian yang dilakukan oleh John Flood seorang ahli hukum yang melakukan penelitian hukum pada bidang kepengacaraan. Dalam melakukan penelitian ia berperan sebagai pengacara magaang dalam suatu kantor, sehingga mendapatkan keleluasaan untuk memahahami dunia kepengacaraan. Salah satu bagian penting penelitian Flood adalah meneliti tentang bagaimana asisten pengacara dan advokat berinteraksi. Mereka berasal dari latar belakang, kelas dan tingkat pendidikan yang berbeda. Flood tertarik bagaimana fungsi kepengacaraan dan pengacara mempengaruhi sistem hukum yang berlaku di Inggris.[42]

-       Penelitian etnografi dapat juga dilakukan untuk memberikan jawaban atas perbedaan pengguna atau pemakai narkotika dengan pengedar atau bandar. Pemakai narkoba seringkali dianggap korban, sehingga pola penangannya berbeda (sanksi hukumannya rehabilitasi). Seorang peneliti, untuk medapatkan jawaban apakah apakah pengguna atau pemakai adalah korban, penelitian etnografi sangatlah membatu. Penelitian etnografi dapat meperoleh pemahaman yang mendalam tentang pengguna narkotika dengan cara mengembangkan keakraban, memahami rutinitas mereka bahkan psikologi para pengguna narkotika.



[1] Meuwissen, Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum, diterjemahkan oleh B. Arif Sidharta, (Bandung, PT. Refika Aditama, 208), hlm. Vii.

[2] Ibid.

[3] Ibid., hlm. viii

[4] Ibid.

[5] Kanneth D. Bailey, Methods of Social Research, (New York: A Division of Macmillan Publishing Co. Inc, 1982), hlm. 254

[6] W. Lawrence Neuman, Social Research Methods (Qualitative and Quantitative Approaches), Ed. 5th.,  (Boston: Allyn and Bacon, 2003), hlm. 363.

[7] Ibid., hlm. 366, Neuman menjelaskan terdapat dua extensions dari penelitian lapangan yakni ethnography dan etnomethodologi.

[8] Roice Singleton ed.all, Approaches to Social Research, (New York: Oxford University Press, 1988), hlm. 308,

[9] Michael Quinn Patton, Qualitative Evalution And Research Methods, (London: Sage Publication: 1990), hkm. 88.

[10] Lawrence Neuman, Op. Cit., hlm 363.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Lawrence Neuman., Op. Cit.; dijelasakan pula dalam Earl babbie, The Practice of Social Research, (Internasional Thomson Publishing, 1998), hlm. 282.

[15] Ibid.

[16] Roice Singleton ed.all, Op. Cit. Boas, melakukan penelitian tentang Indian Amerika, sedangkan Malinowski, pulau-pulau Pasifik.

[17] Lawrence Neuman, Op. Cit. hlm 367.

[18] Kanneth D. Bailey, Op. Cit. hlm. 255.

[19] Michael Quinn Patton., Op. Cit. hlm. 68.

[20] Kanneth D. Bailey, Op. Cit.

[21] Sulistyowati Irianto dan Lim Sing Meij, “Praktek Penegakan Hukum:Arena Penelitian Sosiolegal yang Kaya” dalam Metode Penelitian Hukum, Editor Sulistyowati Irianto dan Shidarta, (Jakarta: Yayasan Obor dan JHMP-FHUI, 2009), hlm. 198.

[22] Kanneth D. Bailey, Op. Cit.

[23] Michael Quinn Patton., Op. Cit. hlm. 67.

[24] Ibid.

[25] Ibid. hlm. 68.

[26] Kanneth D. Bailey, Op. Cit.

[27] Earl babbie, Op. Cit., hlm. 282.

[28] Parlindungan Pardede, Penelitian Lintas Budaya, (28 September 2010) terdapat disitu <http://fkip.uki.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=78:penelitian-lintasbudaya&amp; catid=41:artikel&Itemid=55>

[29] Earl babbie, Op. Cit.

[30] Bambang Mudjiyanto, “Metode Etnografi dalam Penelitian Komunikasi”, Komunikasi Massa, (Volume 5 Nomor 1, 2009): 81

[31] Model Analisis Etnografi dalam Penelitian Kualitatif, (28 September 2010) terdapat disitus <http://divanusantara.wordpress.com/2008 / 12 / 05 / model – analisis – etnografi – dalam – penelitian kualitatif>

[32] Ibid.

[33] Ibid.

[34] Bambang Mudjiyanto, Op. Cit.

[35] Ibid.

[36] Michael D. Mayers, “Investigating Information Systems With Ethnographic Research”, Comminication of ISA, (Volume 2, Article 23), hlm. 5.

[37] Ibid.

[38] Ibid., hlm 6.

[39] Ibid.

[40] Sulistyowati Irianto dan Lim Sing Meij, Op. Cit., hlm. 191-192.

[41] Ibid., hlm. 196

[42] Ibid., hlm. 194-197.

Referensi

Babbie, Earl The Practice of Social Research. Internasional Thomson Publishing, 1998.

Bailey, Kanneth D. Methods of Social Research. New York: A Division of Macmillan Publishing Co. Inc, 1982.

Irianto, Sulistyowati dan Lim Sing Meij, “Praktek Penegakan Hukum:Arena Penelitian Sosiolegal yang Kaya” dalam Metode Penelitian Hukum, Ed. Sulistyowati Irianto dan Shidarta, Jakarta: Yayasan Obor dan JHMP-FHUI, 2009.

Mayers, Michael D. “Investigating Information Systems With Ethnographic Research”, Comminication of ISA, Volume 2, Article 23.

Model Analisis Etnografi dalam Penelitian Kualitatif, (28 September 2010) terdapat disitus <http://divanusantara.wordpress.com/2008 / 12 / 05 / model – analisis – etnografi – dalam – penelitian kualitatif>

Mudjiyanto, Bambang “Metode Etnografi dalam Penelitian Komunikasi”, Komunikasi Massa. Volume 5 Nomor 1, 2009)

Neuman, W. Lawrence Social Research Methods (Qualitative and Quantitative Approaches). Boston: Allyn and Bacon, 2003.

Pardede, Parlindungan Penelitian Lintas Budaya, (28 September 2010) terdapat disitu <http://fkip.uki.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=78:penelitian-lintasbudaya&amp; catid=41:artikel&Itemid=55>

Patton, Michael. Qualitative Evalution And Research Methods, London: Sage Publication: 1990.

Singleton, Roice ed.all, Approaches to Social Research. New York: Oxford University Press, 1988.

  1. September 3, 2011 pukul 3:12 pm

    Mas, email Mas Ilham sudah saya balas. :)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: