Beranda > Teori Hukum > HERMENEUTIKA HUKUM

HERMENEUTIKA HUKUM

BerfikirHermeneutika Hukum

Interpretasi dalam pandangan ahli hukum memiliki kesamaan paralel dengan hermenetika.[1] Hermenetika secara umum dapat didefinisikan sebagai disiplin yang berkenaan dengan teori tentang penafsiran. Pengertian teori disini tidak hanya untuk menunjuk suatu eksposisi metodologis tentang aturan-aturan yang membimbing penafsiran-penafsiran teks.[2] Akan tetapi, istilah teori juga merujuk kepada filsafat dalam pengertian yang lebih luas karena tercakup di dalamnya tugas-tugas menganalisa segala fenomena dasariah dalam proses penafsiran atau pemahaman manusia.[3] Hermeneutik pada dasarnya berhubungan dengan bahasa. Kita befikir melalui bahasa, berbicara dan menulis melalui bahasa, mengerti dan membuat interpretasi dengan bahasa. Hermeneutik adalah cara baru untuk ‘bergaul’ dengan bahasa. Sebagaiman diungkapkan oleh Gadamer, bahasa harus dipahami sebagai sesuai yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. Wilhelm Dilthey menyatakan kata-kata ataupun ungkapan mempunuai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud.[4] Jadi pengungkapan mana bahasa merupakan pusat sentral kegitan hermeneutik.



Hukum terdiri dari rumusan-rumusan yang mengikat secara imperatif maupun fakultatif kepada manusia. Rumusan hukum tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi antara siperumusnya dangan tujuan hukum yang hendak dicapainya. Berarti rumusan hukum merupakan suatu bahasa. Sebagai suatu bahasa, maka suatu rumusan hukum merupakan objek dari hermeneutik. Bahasa Dalam kotreks hukum menurut E. Sumaryono menyatakan:[5]

Interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. Setiap hukum mempunyai dua segi yaitu yang tersurat dan yang tersirat, atau bunyi hukum dan semangat hukum. Dua hal itu selalu diperdebatkan oleh ahli hukum. Dalam hal ini bahasa menjadi penting. Suntilitas Intelligendi (ketepetan pemahaman) dan Subtilitas Ekplicandi (ketepatan penjabaran) adalah sangat relevan bagi dokumen hukum.

Jadi ruanglingkup hermeneutik hukum adalah ajaran filsafat mengenai hal mengerti/memahami sesuatu, atau suatu metode interpretasi (penafsiran) terhadap teks. Kata teks atau sesuatu adalah berupa teks hukum, fakta hukum, naskah-naskah hukum, dokumen resmi suatu negara, doktine hukum, yurisprudensi dansemua kepastiannya menjadi objek yang ditafsirkan. Metode dan teknis menafsirkan dilakukan secara holistik dalam bingkai berkaitan dengan teks, konteks dan kontekstualitasnya.[6] Secara nyaata pada abad kesembilan belas dan kedua puluh konsep hermeneutika hukum mengalam perkebangan yang signifikan. Hal ini merupakan hasil dari pengembangan berbagai jenis hermeneutika umum, “metodologi” dikembangkan oleh Schleiermacher dan Dilthey, dan “fenomenologi” dikembangkan oleh Heidegger dan Gadamer.[7] Bahkan, filsafat hukum juga menjadisaksi dalam upaya untuk mengembangkan hermeneutika analitik.

Dalam hermeneutik, untuk dapat membuat intepretasi, orang lebih dahulu harus mengerti atau memahami. Keadaan labih dahulu mengerti ini bukan didasari atas penentuan waktu, melaikan bersifat alamiah. Ketika sesorang mengerti, ia sebenarnya telah melakukan intepretasi dan juga sebaliknya. Ada kesertametaan atara mengerti dengan membuat interpretasi. Dalam menafsirkan harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks, lalu meresapi makan teks. Dari uraian diatas dapat disimpulkan, hermenetika tidak hanya mencakup atas metode penafsiran akan tetapi filsafat penafsiran. Karena hermeneutik menyelidiki realitas dalam pengertian sepenuh mencari jawabahan atas sesuatu yang disebuat “ada”.  Terdapat tiga pemikiran hermeneutik yang dibahas dalam tulisan ini yakni Scheiermacher, Dilthey, dan Hans Georg Gadamer. Pemilihan atas teori tersebut dikarenakan adanya hubungan pemahaman teks hukum.

Menurut Scheiermacher, dalam melakukan penafsiran akan muncul dengan sedirnya sebuah kesalahpahaman. Kesalah pahaman ini bukan merupakan merupakan faktor yang kebetulan terjadi akan tetapi merupakan bagian intergral dari kemungkinan iterpretasi itu sediri. Oleh karena itu kesalahpahaman itu harus di dsingkirkan.  Maka, menurut Scheiermacher, dalam melakukan penafsiran teks terdapat dua bagian yang perlu diperhatikan yakni penafsiran gramatikal dan penafsiran psikologis.[8] Bahasa gramatika menurut Scheiermacher merupakan syarat berfikir setiap orang, sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan sesorang menagkap ‘setitik cahaya’ pribadi penulis. Menurut Kaelan, prinsip hermeneutik Scheiermacher adalah rekonstruksi yang bertolak dari ekpresi yang telah diungkapkan. Dalam masalah ini terdapat dua hal pokok yang saling berhubungan dan berinteraksi, yaitu momen tata bahasa dan momen kejiwaan.[9] Momen tatabahasan yang kemudian disebut dengan rekontruksi gramatikal, sedangkan momen kejiwaan disebut rekonstruksi psikologis. Sebagaimana dinyatakan oleh Richrd E Palmer yakni:[10]

Thus interpretation consists of two interacting moments: the “grammatical” and the “psychological” (in the larger sense of everything encompassed by the psychic life of the author). The principle upon which this reconstruction stands, whether grammatical or psychological, is that of the hermeneutical circle.

Schleiermacher, menyebutnya dengan pemahaman rekonstruksi objektif historis dan rekonstruksi subjektif historis. Rekonstruksi objektif historis membahas sebuah pernyataan dalam hubungannya dengan bahasa secara keseluruhan. Rekonstruksi subjektif historis membahas awal mulanya sebuah pernyataan masuk dalam pikiran seseorang. Tugas hermeneutika menurut Schleiermacher sendiri, memahami teks sebaik mungkin, bahkan kalau dapat, lebih baik daripada pengarangnya sendiri, dan memahami pengarang teks tersebut lebih baik daripada memahami dirinya sendiri.

Richrd E. Palmer, menyatakan bahwa dalam pemikiran Scheiermacher, terdapat pemikiran untuk misahkan wilayah bahasa dari wilayah pemikiran. Richrd E Palmer, menyatkan bahwa:[11]

IN SCHLEIERMACHER’S  LATER THINKING there is an increasing tendency to separate the sphere of language from the sphere of thought. The former is the province of “grammatical” interpretation, while the latter Schleiermacher first called “technical” (technische) and then later “psychological.” Grammatical interpretation proceeds by locating the assertion recording to objective and general laws; the psychological side of interpretation focuses on what is subjective and indivi- dual. According to Schleiermacher, “just as every speech has a twofold relationship, both to the whole of the language and to t h e collected thinking of the speaker, so also there exists in a l l understanding of the speech two moments: understanding it as something drawn out of language and as a ‘fact’ in the thinking of the speaker.”

Wilayah interpretasi “gramatis” diawali dengan menempatkan pernyataan berdasarkan aturan objektif dan umum, sedangkan interpretasi psikologis memfokuskan pada apa itu subyek dan individu. Setiap pembaca memiliki hubungan ganda, baik kepada keutuhan bahasa ataupun kepada pemikiran kolektif pembicara. Memahami sebagai suatu yang tergambar dari bahasa dan bagian sebuah fakta dari pembicara. Jadi, penafsiran gramatikal sebagaimana dijelasakan Scheiermacher, tidak akan valid kecuali dilanjutkan dengan penfsiran psikologi, yakni menggunakan pengetahuan linguistik dan sejarah kebahasaan yang diperoleh sebelumnya. Seorang penafsir harus merekonstruksi secara imajinatif suasana batin pengarang.[12]

Hal ini berarti pemikiran Scheiermacher, telah menjangakau lebih jauh dari hanya sekedar pemahaman gramatikal saja. Karena menurut, Scheiermacher disaping menekankan pentingnya pemahaman gramatikal juga nekankan pentingnya interpretasi psikologis. Intepretasi psikologis menjangkau lebih jauh lagi yakni upaya menempatkan kepala kita ke dalam kepala pengarang, berusaha melacak asal usul “batiniah” dari karyanya atau dengan kata lain, mereka ulang aktus penciptaan.[13] Di dalam upaya memahami teks, penafsir harus mampu memahami keduanya. Hal ini merupakan lingkaran hermeneutis (hermeneutical circle).

Adapaun yang dimasud dengan Lingkaran hermeneutis Scheiermacher, menurut Richrd E. Palmer What we understand forms itself into systematic unities, or circles made up of parts. The circle as a whole defines the individual part, and the parts together form the circle, A whole sentence, for instance, is a unity.[14] Merupakan apa yang dipahami membentuk dirinya ke dalam kesatuan sistematik, atau lingkaran-lingkaran yang dibentuk oleh bagian-bagian. Lingkaran secara keseluruhan menggambarkan bagian-bagian dan bagian-bagian secara bersama-sama membentuk lingkaran. Berdasarkan interaksi dialektis antara keseluruhan dengan bagian-bagian, maka masing-masing meberikan suatu makna. Maka, dalam penafsiran secara gramatikal, sesuatu yang membutuhkan ketetapan (makna) dalam suatu teks tertentu hanya dapat diputuskan dengan merujuk pada lapangan kebahasaan dan makna dari sebuah batang tubuh teks ditetapkan dengan merujuk pada konsistensinya dengan kata-kata lain di sekelilingnya.[15] Menurut Scheiermacher suatu penafsir tidak mungkin memahami suatu objek, seperti teks atau kalimat, sebagai suatu bagian partikular tanpa merujuk kepada keseluruhan konteksnya. Selain itu, tidak juga dapat dipahami keseluruhan tanpa merujuk kepada bagian-bagian.[16]

Dilthey juga mengembangkan pandangan yang serupa dengan Scheiermacher, akan tetapi menurut Dilthey proses penafsiran psikologi digambarkan sebagai peristiwa sejarah bukan mental.[17] Oleh karena itu, yang perlu ditafsirkan bukan kondisi pengarangnya, tetapi makna-makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks.[18] Dilthey memasukkan persoalan interpretasi teks kedalam wilayah yang lebih luas, yaitu pengetahuan historis (historical knowledge).[19] Dilthey membangun sebuah sistem yakni sistem internal individu dan sistem eksternal. Sistem-sistem kemasyarakatan sifatnya adalah eksternal kerena ditentukan oleh ruang dan waktu, dan hanya melalui sistem eksternal sajalah yang akan mampu meraih interpretasi historis tentang situasi historis setiap individu.[20] Setiap individu merupakan hasil atau produk dari suatu sistem sosial atau eksternal. Dilthey mencari pemahaman atau interpretasi atas kegiatan-kegiatan individu yang dengan sedirinya tersituasikan dalam sistem eksternal.

Disini terlihat pemahaman Dilthey, lebih meluas pemahaman atas individu yang dapat diperoleh dengan pritiwa-pristiwa sejarah yang melahirkannya. Maka, dari pemikiran Dilthey perumus suatu norma tidak memiliki otoritas atas makna teks, tetapi sejarahlah yang menetukan maknanya. Terhadap pemahaman Dilthey,  terlihat terjadinya pergeseran dari pemahaman psikologis kepada pemahaman historis. Masalah hermeneutika menurut Dilthey begerser dari persoalan bagaimana memasuki kelapa pengarang/orang lain menjadi bagaimana merekonstruksi bentuk-bentuk yang menjadi wadah kehidupan orang lain itu dieksternalisasikan.[21] Interpretasi psikologis langsung sebagaiman diinginkan Scheiermacher tidak mungkin di lakukan lagi, karena Dilthey sudah mengdaikan adanya kesalingterkaitan makna kshidupan yang terjawantah ke dalam wujud-wujud eksternalisasi tersebut.[22]

Berdasarkan apa penjelasan kedua pemikiran tersebut, baik Schleiermacher dan Dilhey, hermeneutik merupakan penafsiran reproduktif. Karena, penafsiran merupakan rekontruksi suatu pemaknaan atas sesuatu teks, dengan menampilkan apa yang diinginkan oleh pengarang yang berupa, pikiran, perasaan dan maksud pengarang. Hal ini terlihat adanya penekanan penting pada seorang interpreter yakni harus memiliki pemahaman tentang sejarah dan psikologi. Dalam interpretasi ini tidak tercipta makna baru karena bukan merupakan suatu kegiatan produksi. Pada akhirnya kedua pemikiran tesebut yakni pandangan hermeneutika reproduktif dikelopokan sebagai pandangan romantisme. Pemikiran romantisme ini menjadi dasar atas kritik Hans Georg Gadamer yang lebih menekankan pada padangan fenomenologi.

Hans Georg Gadamer  dikenal dengan hermeneutik filosofis yakni suatu penafsiran selalu berarti proses produksi makna baru bukan reproduksi makan awal. Hans Georg Gadamer, mengemukakan bawah penafsiran selalu merupakan proses sirkuler, yakni memahami masa lalu dari sudut pandangan kita dan dari situasi kekinian kita (our historical present).[23] Pertanyaan itu bermaksud menolak berbagai pandangan yang menganggap kegiatan penafsiran sebagai re-living masa lalu dengan menghilangkan identitas penafsir dalam kegiatan interpretasi.[24] Hans Georg Gadamer, tidak setuju jika tugas hermeneutik hanya sebatas mencari makan asli yang terkandung dalam suatu teks sebagaimana diinginkan oleh pandangan romatisme. Bagi Hans Georg Gadamer  manfsirkan teks atau mencari pemahaman teks tidak hanya terbatas pada maksud pengarangnya saja. Interpretasi adalah proses penciptaan kembali, bukan suatu proses reproduksi atau rekosntruksi melainkan produsi. Teks mempunya keterbukaan aats bagi masa kini maupun masa mendatang, hermeneutik selalu memahami realitas dan manusia dengan titik tolak sekarang atau kontemporer.

Pendapat sebelumnya dalam mencari jawaban untuk menghilangkan jarak watu antara penafsir dan pengarang dengan menempatkan diri sebagaimana pengarang dulu -Dilthey dan Scheiermacher- dikeritik oleh Hans Georg Gadamer  sebagai usaha yang sia-sia. Pemahaman manusia tentang sejarah dan tradisi tidak akan pernah utuh, sebab keniscahayaan jarak dan waktu. Seorang sejarawan tidak akan bisa mengakui klaim kebenaran masa lalu tanpa mengikutsertakan perasangkanya sendiri dan diapun tidak bisa mempertaruhkan parasangkanya tanpa mengakui kalim kebenaran masa lalu. Maka, terlihat bahwa Hans Georg Gadamer  dalam meperoleh pemahaman yang benar adalah melihat masa kini dan masa lalu. Terdapat 2 (dua) hal yang di tolak Hans Georg Gadamer ketika menerjemahkan makna teks yakni: pertama, makna teks tersebut takluk di bawah paradigma konseptual penafsir yang berasal dari prasangka-prasangka bahasa masa kini. Hal ini akan membawa kepada kesalahpahaman, sebab terjadi adalah “pemerkosaan masa lalu oleh masa kini. Kedua, makna teks dibiarkan mendominasi bahasa masa sekarang: pemahaman dan iterpretasi dibuat bersandarkan masa lalu.[25] Di sini yang akan terjadi penjiplakan atau pengopian dan bukan pemahaman. Maka kemungkinan yang dapat dilakukan, menurut Hans Georg Gadamer adalah peleburan bahasa. Melihat atas kedua-duanya sebagai fusi bukan sebagai suatu mediasi.

(tulisan ini merupan konsep awal kerangka teori dlm penelitian disertasi penulis)


[1] E. Fernando M. Manullang, Korporatisme dan Undang-Undang Dasar 45, (Bandung: CV. Nuansa Aulia, 2010), Hlm. 23.

[2] Anthon F. Susanto, Ilmu Hukum Non Sistematik (Fondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia), (Yogyakarta: Genta Publisisng, 2010), hlm. 113-114.

[3] Ibid., hlm. 115.

[4] E Sumaryo, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Cet. 5, (Yogyakarta:Kanisius, 1999), hlm. 29.

[5] Anthon F. Susanto Ibid., hlm. 26-27

[6] hlm. 70. Tujuan dari hermeneutik hukum adalah mamahami makna hukum.

[7] In the seventeenth and eighteenth centuries several works devoted exclusively to legal hermeneutics were produced…. The transition between old legal hermeneutics and the contemporary version that adopts the ideas of general philosophical hermeneutics is marked by von Savigny’s theory of interpretation, outlined in Juristische Methodenlehre. Jerzy Stelmach dan Bartosz Brozek, Methods hf Legal Reasoning, (Netherlands: Published by Springer, 2006), hlm. 6.

[8] Anthon F. Susanto Ibid., hlm. 41.

[9] Kaelan, Filsafat bahasa Semiotika dan Hermeneutika, (Yogyakarta: Paradigma, 2009), hlm. 266.

[10] Richard E. Palmer, Interpretation (Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer), Cet. 5, (Evanston: Northwestern University Press, 1969), hlm.  86.

[11] Sebelum menggunakan istilah interpretasi psikologis, Scheiermacher menggunakan istilah interpretasi teknis. Ibid., hlm. 89.

[12] Anthon F. Susanto Ibid., hlm. 122.

[13] Inyiak Ridwan Muzir, Hermeneutika Filosofis Hans Georg Gadamer, (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2008), hlm. 73.

[14] Richard E. Palmer, Ibid., hlm. 89. Because within this “circle” the meaning comes to stand, we call this the “hermeneutical circle.

[15] Anthon F. Susanto Ibid., hlm. 120.

[16] Ibid.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Paul Richeur, Hermeneutika Ilmu Sosial, hlm. 65.

[20] E Sumaryo, Op. Cit., hlm. 48-49.

[21] Inyiak Ridwan Muzir, Op. Cit., hlm. 77.

[22] Ibid., hlm. 78.

[23] Anthon F. Susanto Ibid., hlm. 123

[24] Ibid.

[25] Inyiak Ridwan Muzir, Op. Cit., hlm. 177.

  1. Mei 25, 2013 pukul 6:05 am

    Reblogged this on Oris Daeli.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: