Beranda > Teori Hukum > KEGELISAHAN PENAFSIRAN KONSTITUSI

KEGELISAHAN PENAFSIRAN KONSTITUSI

Kegelisahan Penafsiran Konstitusi (opini)

wajah-konstitusiPerdebatan yang sering terjadi di dalam bagaimana menentukan makna dari suatu teks konstitusi yakni bagaimana menentukan makna suatu prasa atau kalimat teks konstitusi. Para ahli konstitusi disibukkan dengan permasalahan yang terus terulang yakni pencarian bentuk dan arti teks konstitusi, menyelusuri maksud dan tujuan dari perancang konstitusi dan menaruh perhatian khusus terhadap nilai-nilai para perancang konstitusi. Usaha memberikan makna atas konstitusi tersebut, tergiring dan terjebak dalam kebenaran-kebenaran metode-metode penafsiran. Maka yang hadir adalah pertanyaan apa yang harus kita lakukan atau apa yang harus kita lakukan di dalam interpretasi. Objektivitas di ukur dengan cara atau alat memahami teks itu sendiri, yang berujung kepada kategori-kategori metode yang masing-masing memiliki klaim kebenaran-kebenaran.

Para ahli penafsiran konstitusi pada ujungnya berbicara tentang membaca secara originalitas, konseptual, fundamental, simbolis bahkan tektualisme. Mereka terlibat dalam perseteruan tanpa henti antara originalime dengan originalisme atau interpretivsm dan non-interpretivsm. Melalui metode teks konstitusi diperlakukan selayaknya orang lain, seperti masa kecil di masanya dipenuhi konsep-konsep dan prasangka yang tidak terjawab pada usianya. Pemahaman berada di dalam ruang hampa yang kosong dan bebas nilai. Seakan, penafsir dapat keluar dari lingkungan penafsirannya, melepaskan diri dan dapat menggabarkan dari atas dan melihat secara objektif. Penafsir, menolak mengakui kenaifan pada dirinya sendiri, yang pada akhirnya penafsir gagal untuk mencapai tingkat refleksi atas pemahaman tersebut. Kenaifan tersebut menjadi tidak terukur ketika penafsir mengambil posisi terhadap permasalahan yang muncul dengan menanggalkan konsepnya sendiri dan berfikir hanya dalam konsep dari zaman tek tersebut yang dia harus pahami. Kenyataan tersebut menjadi kegelisahan dalam pemahaman tek konstitusi, yang juga menjadi kegelisahan dalam penulisan makalah ini.

Oleh karena itu, pertanyaan bukan pada apa yang kita lakukan atau harus lakukan, namun apa yang terjadi pada kita dari apa yang kita ingin lakukan dan lakukan. Pertanyaan tersebut melepaskan diri dari kesibukan  teks konstitusi dan masuk kedalam pemahaman yang bersifat ontologis. Hubungan diindentifikasikan sebagai hubungan antara pembaca dengan teks yang ada, di masa lampau dan masa kini, dimana pemahaman muncul. Eksistensi manusia memainkan peran yang tidak bisa ditanggalkan begitu saja. Melalui pemikiran tersebut penafsiran tidak didapati melalui metode melainkan fokus kedalam pemahaman “filsafat”. Hasil dari kegelisan tersebut menghasilkan karakter terhadap teori konstitusi yang menghadirkan jawaban-jawaban hermeneutik. Tujuan dari hermenutik adalah pemahaman mendalam dari penafsiran konstitusi yang mencari pencapaian untuk menyerap pemahaman filsafat dalam aktivitas konstitusional. Tujuan dari Hermeneutik merupakan upaya penjernian berbagai permasalahan konstitusional yang muncul. Tujuan dari Hermeneutik menjadi sumber penting dalam mengerti, memahami dan penerapan konstitusi. Dari berbagai arti penting tersebut, yang paling penting adalah hermenutik sebagai sarana memahami manusia itu sendiri.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: