Heidegger dan Mistik Keseharian

Mengapa saya yang mempelajari ilmu hukum, tertarik membaca buku tentang Haidegger. Seorang filsuf yang dinilai kontroversi. Bukan hanya karena ia seorang partisipan Nazi tapi juga pemikirannya yang sangat radikal. Radikal karena Haidegger mempertanyakan yang “ada” itu bagaimana bisa “ada”. “Ada” dalam arti menunjuk kita yang ada ini bisa berada. Suatu jalan yang biasanya di tempuh ketika seseorang bertanya tentang hakikat sang pencipta.

Apa relevansinya dengan hukum. Pertemuan saya dengan Haidegger, ketika saya mencoba mempelajari penafsiran dalam hukum. Kita yang mempelajari ilmu hukum, penafsiran menjadi hal yang melekat ketika kita memahami teks hukum. Dalam ilmu hukum dikenal interpretasi dan konstruksi. Hal tersebut yang saya coba pelajari, dalam mempelajarinya saya bertemu dengan Hermeneutika. Dan, dalam hermeneutika ada nama Haidegger.

Berbeda dengan ilmu hukum, kajian penafsirannya berhenti pada tataran metode. Artinya mencari cara bagaimana menafsirkan teks hukum. Hermeneutika melewati hal tersebut. Hermeneutika pada awalnya sama dengan hukum, mengutak ngutik metode. Tapi hermeneutika melakukan lompatan yakni mempelajari ada nya penafsiran itu sendiri. Jadi buka bertanya bagaimana cara menafsirkan tapi apa yang terjadi pada manusia ketika melakukan penafsiran.

Cara berfikir seperti itu diawali dari pemikiran Haidegger. Haidegger, meletakan dasar ontologi bagi pemahaman hermeneutik. Oleh karenanya saya tidak bisa mengelak, ketika ingin mengkaji lebih dalam tentang penafsiran ilmu hukum. Karena saya memiliki keyakinan, melalui hermenutik saya dapat memahami penafsiran ilmu hukum.

Awalnya nama Haidegger, asing bagi saya. Nama ini saya kenal dari Prof Arif Sidarta, dalam kuliah umum. Pemikirannya sulit untuk di pahami, karena Haidegger suka menciptakan kata baru. Dalam upaya mempelajari hermenutuk, perjumpab dengan pemikiran Haidegger tidak bisa di hindari. Di sisi lain membaca buku “ada dan waktu” Haidegger sangat sulit bahkan sayang merasa tidak mampu. Akhirnya perjumpaan dengan literatur kedua menjadi pilihan yang harus di lakukan.

Buku karya F Budi Hardiman, ini lah yang menjadi literatur sekunder dalam saya memahami pemikiran Haidegger. Buku yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia ini sangat mengasikan untuk di baca, karena mencoba menyederhanakan pemikiran Haidegger. Buku ini mampu menyuguhkan secara menarik. Kenapa menarik? Karena ketika kita membacanya kita, dirangsang untuk tidak berhenti. Kita seakan terjebak dalam alur pembahasan dan tak mampu untuk menghentikan pembacaan. Layaknya membaca novel, kita di buat penasaran akan akhir cerita. F Budi Hardiman, saya sebut sebagai penulis yang jenius. Pemikiran Haidegger, mampu ia suguhkan secara umum. Oleh karnanya wajar jika buku ini diterbitkan kembali dalam cetakan ke tiga,

Buku tersebut, berjudul “Haidegger dan mistik ke seharian”. Berbeda dengan buku umumnya, subtansi pembahasannya selain disajikan dalam bab per bab juga terdapat lampiran yang membahasa suatu dialog Heidegeriana. Dengan membaca dialog tersebut, apa yang menjadi konsep-konsep pemikiran Haidegger lebih mudah dipahami. Membaca dialog tersebut, saya teringat dengan cara mengungkap pemahaman dialogis Gadamer. Salah satu konsep, yang dicetuskan oleh Gadamer -murid dari Haidegger -, bawa dalam proses memahami harus dengan dialog, Keterbukaan akan mengungkap semua hal yang ingin dipahami. Bahkan teks bukan benda yang mati, akan tetapi sesuatu yang ada di sana, artinya di akui. Dialog merupakan fundamental understanding.

Buku yang memiliki 203 halaman, terbagi menjadi 6 bab. Di awal bab, digambar sosok Haidegger sebagai “sang pelihat dari Messkrich. Diawali dengan cerita sebuah Film tentang Haidegger yang dibuat oleh West-Deutsher Rundfunk dan diakhir dengan bagaimana teman-teman dekatnya melihat sosok Haidegger. Perselingkuhan haideger dengan Hannan Arend -seorang filsuf besar- tak luput diungkap dalam buku tersebut. Tapi semua itu bukan yang menjadi inti yang ingin di suguhkan dalam awal bab tersebut. Awalan bab ingin menekankan bahwa pengalam hidup Haideggerlah, yang memberikan warna dalam pemikirannya khususnya dalam buku zeit und sein yakni pengaruh hidup akan kecemasan dan keterlemparan. Dua hal ini dianggap suatu yang real oleh Haideger, yang ia letakkan sebagai motif utama filsafatnya.

Pada bab-bab berikutnya barulah dikupas satu-persatu pemikiran Haidegger khususnya tentang permasahan ada dan waktu. Lebih khusus lagi tentang apa itu mistis keseharian. Pemikiran dan konsep-konsep Haidegger, mapu menjadi dasar dalam menganalisa mistis kesaharian. Menggambarkan bahwa rutinitas manusia dalam keseharian mengakibatkan manusia menjadi konsumtif dan nomaden. Eksistensi kesadaran mereka telah hilang. Mereka disibukkan dengan keseharian, keseharian telah menjadi dominator dan imperator yang sangat canggih. Apa yang menarik bagi saya, dan tentunya yang melatar belakangi saya harus membaca buku ini. Hal yang menarik, tentunya yang berkaitan dengan hermeneutik, yakni bagaimana pemahaman itu bisa hadir. Haidegger memang tidak membahas tentang hermeneutik akan tetapi semua konstruksi berfikirnya adalah dasar hermeneutik. Terdapat beberapa konsep dalam buku tersebut yang saya jadi kan dasar dalam mengali pemahaman penafsiran hukum.

Konsep tentang “ada”. Ada merupakan konsep inti dari Haidegger yang tidak mudah di pahami. Karena kita harus mampu membedakan kata “ada” dengan “mengada”, “ada” menopang “mengada-mengada”. Kita harus dapat menjawab mengapa harua “ada” kenapa bukan “tiada”. Konsep-konsep yang berada dalam ranah yang sangat filosofis, yang tentunya perlu kecermatan dalam memahaminya. Tapi buku tersebut mampu menjelaskan secara jernih, kehadiran contoh-contoh dalam buku tersebut mempermudah kita dalam memahami. Bagi saya, pemahaman konsep “ada” yang penting atas pernyataan (Begitu saja? Ya, ia “di sana”, yakni ada di dalam dunia begitu saja tanpa tahu dari mana dan mau kemana. Itulah yang disebut dengan faktisitas (faktizitat), yaitu kenyataan bahwa kita ada di dunia ini bersifat niscaya. Kita tidak pernah ditanya dulu mau atau tidak hidup di dunia ini, juga tidak diberitahu ke mana bergerak di dunia ini. Kita “ada begitu saja” kita “di sana”, di dalam dunia.)  Konsep ini menjadi penting di pahami secara filosofis -secara teologis tentu konsep inii menuai kritik karena Agama, menyatakan bahwa manusia bersal “diciptakan” Allah-. Penting secara filosofis, dalam memahami penafsiran dalam hal melihat eksistensi manusia itu sendiri, sebagai penafsir. Karena “ada” secara faktisitas mengandung arti terlempar di dunia, atau adanya keterlemparan (Geworfenheit). Melalui keterlemparan ini lah dapat di pahami hermeneutik.

Arti memahami konsep keterlemparan di jelaskan sebagai (memahami keterlemparan berarti menyadari diri sebagai kemungkinan ini, dan dalam arti ini memahami mengandung rancangan (Entwurf), yakni proyek hidup ke masa depan… memahami menurut Haidagger tidak bersifat diskursif, melainkan pra-reflektif). Artinya dalam proses memahami ada pemahaman awal dan adanya proyeksi kedepan. Dalam pernyatan lain di jelaskan (seperti memahami tidak berciri refektif, menafsirkan juga berakar pada “pra-paham” (Vormeinung) yang diterima dari penafsir begitu saja dan tak didiskusikan). Penafsir artinya memiliki lebih dahulu, melihat lebih dahulu dan menangkap lebih dahulu.

Dari pemikiran Haidegger tersebut, saya mendapatkan pemahaman. Bahwa ketika kita memahami sesuatu, dalam hal ini teks hukum. Kita tidak pernah memulai dari titik kosong. Ada sesuatu pra pemahaman dalam diri kita, ada pra-reflektif.  Rasa cemas dan takut atas keterlemparan pada dunia, memiliki arti adanya rancangan dalam diri manusia. Berati penafsiran juga harus mampu menjakau proyeksi ke depan. Sesuatu kemungkinan-kemungkinan kedepan. Maka, omong kosong ketika kita ingin memahami sesuatu itu dapat menanggal kan pra pemahaman kita. Teks dianggapa objek yang mampu kita rasionalkan. Cara berpikir rasionalitas, Cogito ergo sum ala Chartesian di tentang di sini. Karena, justru para pemahaman kita yang menjadi titik awal pemahaman.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Resensi Buku dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s