BETAWI

ASAL USUL ETNIS KU –BETAWI-

Apa maksudnya dalam blog yang bertemakan hukum, terdapat artike (tulisan lepas) tentang BETAWI. Tujuan dilatar belakangi adanya rasa cinta akan asas-usul saya sendiri dan adanya rasa kewajiban yang melekat untuk mengetahui nilai budaya saya sendiri. Secara kodrat saya dihirkan dari orang tua beretnis Betawi dan dilahirkan di Jakarta. Cara bersikap tindak baik dan kebiasaan yang ditanamkan dari kecil adalah budaya betawi. Maka cukup ironis ketika saya tidak memahami budaya leluhur penulis sediri. Akan tetapi tulisan ini bukan berati sifat primodial –mementingkan mengangap esklusif- akan budaya sendiri. Secara sederhana berarti tulisan ini merupakan gambaran keingintahuan saya akan budaya betawi.

Budaya betawi sanagat lah luas, seluruh aspek kehidupan –cara beberbicara, bahasa, kesenian, sikap tidak sehari, ritual kedaerah bahkan nilai keyakinan dan lain-lain- Dikatakan sebagai budaya berarti nilai tersebut telah menjadi pola kehidupan yang sangat lama, telah menjadi nilai yang ajeg dan penjadi pedoman hidup. Akan tetapi, tulisan ini tidak menggabarkan seluruh aspek nilai kehidupan betawi tersebut, tulisan ini hanya menggabarkan asas usul etnis betawi. Keterbatasan kemapuan penulis menjadi penghalangan penulisan budaya betawi secara luas. Penekana pada asal usul betawi dilatar belakangi adanya pernyataan umum yang sering dilontarkan dan menjadi sumber rujukan bahwa …betawi merupakan keturunan budak atau bangsa Asia kelas rendah yang banyak terdapat di Batavia… atau adanya pernyataan bahwa … betawi merupakan kelompok etnis yang lahir dari campuran perkawinan beberapa etnis seperti Cina, Bali, Jawa, Sunda dan beberapa entis lainnya.

Pernyataan terbut menjadi tanda “?” besar bagi saya. Karena, dari pernyataan tersebut dapat ditarik dua kesimpulan. Pertama, betawi hanya merupakan golongan kelas rendah bahkan merupakan budak, yang berati tidak berasal/adanya bangsawan betawi. Kedua, etnis betawi ada karena suatu hal yang kebetulan dari perkawinan antar etnis yang berati tidak terdapat kejelasan akan nenek moyang mereka. Dari pernyataan umum tersebut, saya mencoba mencari apakah ada pernyataan lain mengenai asal-usul betawi. Penyataan umum bahwa betawi merupakan keturunan budak atau bangsa Asia kelas rendah sangat menggelitik hati ini. Hal ini semakin menggelitik ketika harus diturunkan, diajarkan dan diyakini generasi berikutnya bahkan oleh anak saya sendiri. Intinya saya tidak yakin akan pernyataan tersebut.

Oleh karena itu, saya mencoba mencari literatur tentang asal usul betawi baik buku, artikel, majalah, koran atau laman dalam website. Bacaan yang sebernarnya asing/baru bagi saya. Mengingat selama ini, hanya bacaan yang berkaitan hukum yang menjadi literatur saya. Dari penelusuran tesebut, saya menemukan beberapa tulisan yang mengkaji asal-usul betawi yang ditulis oleh Ridwan Saidi, Lance Castles, Mona Lohanda dan Yasmine Shahab. Tulisan mereka mejelasakan pernyataan tentang asas usul enis betawi. Maka, dalam tulisan ini, penulis menggabarkan ulang atas tulisan tersebut yang pada akhirnya akan disimpulkan berdasarkan keyakinan saya sendiri. Sampai tanggal tulisan ini di publish, saya masih mengaji beberapa buku tersebut. Dan, saya belum dapat menuangkan tulisan utuh dalam blog ini. Makan saya ucapkan maaf, jika tulisan ini belum lengkap dan masih akan berlanjut.

*beberapa photo yang saya gunakan merupakan hasil karya orang lain, clik photo untuk menuju sumber aslinya.

  1. Oktober 3, 2011 pukul 7:52 pm

    , “Hua, saya serius baca nya dari awal, tapi ternyata masih menggantung tha? Akan tetapi, terima kasih untuk ilmunya. Bagi saya, Betawi punya gaya. Gaya mereka berbeda-beda. Terlepas daripada perbedaan itu semua, yang menjadikan saya simpatik terhadap etnis ini adalah bahwa mereka percaya diri. Budaya mereka sangat berkarakter. Menurut encang Ali, hee..🙂 Encang dari suami saya, yang juga tulen Betawi, bahwa orang Betawi sekarang sudah pada ‘minggir’, tanah mereka banyak, akan tetapi terkadang oleh karena ‘kepentingan’ terkadang mereka menjual tanah, yang dengan susah payah kakek nenek mereka perjuangkan untuk anak cucu mereka, yang kemudian beralih hak kepada orang yang bukan asli Betawi. Jadi tidak heran apabila beliau menyatakan bahwa sekarang ini orang Betawi sudah pada ‘minggir’. Beliau juga pernah kisahkan bahwa di dalam kebudayaannya, Perempuan itu disediakan tanah dan rumah untuk tempat tinggalnya ketika bersuami, agar tidak pergi ke mana-mana. Sehingga kebudayaannya cukup unik juga, menurut saya. Banyak sejarah yang beliau ceritakan dari zaman Belanda. Hal lain yang beliau ceritakan pula adalah, bahwa daerah yang kita kenal di daerah Jakarta Pusat, Cikini dan yang baru-baru ini terkenal dengan tawurannya, yaitu Johar, sebenarnya, wilayah tersebut perbatasannya sudah banyak yang dirubah atau digeser. Contohnya, wilayah rumah suami saya di Jalan Johar Baru V. Dahulu wilayah itu bukan wilayah yang dinamakan Johar Baru, melainkan lebih dikenal dengan sebutan Kampung Rawa.

    Singkat kisah saja dari sejarah Betawi yang sedikit saya dapat tangkap dari beliau yang sampai saat ini sebagai saksi sejarah keluarga suami dan Betawi di wilayahnya. Bahkan wilayah di sekitar rumahnya yang dahulu merupakan tempat ternak ayam, tempat lumbung padi dikumpulkan, sawah, dan lain-lainnya beliau tunjukkan kepada kami dengan kesaksiannya.

    Ya, rumah almarhum ayah dari suami yang merupakan adik terkecil dari encang Ali, dikatakannya bahwa dahulu rumah tersebut merupakan tempat kakek dan neneknya mengumpulkan hasil panen padi ketika panen, yang disebut pusat lumbung padi. Juga di belakang rumahnya yang disebut sebagai tempat ternak ayam. Jadi, kalau kata encang, tidak heran jika rumah tersebut sekalipun dibersihkan akan tetap berantakan.

    Beliau pun kisahkan, bagaimana kakek nenek nya mengembangkan hasil leluhur mereka. Nenek/Kakek uyut, mungkin bagi saya dan suami menyebutnya, hobby mengumpulkan emas. Singkat cerita, encang berkata, dahulu yang kaya adalah nenek bukan kakek. Kakek hanya pintar mengaji. Bagi orang Betawi, lelaki Betawi harus pandai mengaji, karena hal itu sebagai pegangan hidup. Begitu juga almarhum ayah dari suami, yang pandai mengaji. Encang berkata bahwa keturunan kite itu lelakinya mengaji, pandai mengaji, gak boleh lupa itu.”

  2. ilham76
    Oktober 4, 2011 pukul 6:17 am

    hehe memang belum selesai…. wow sangat menarik ceritanya… indahnya berbagi…. slm

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: