KEGELISAHAN PENAFSIRAN KONSTITUSI

Agustus 18, 2014 Tinggalkan komentar

Kegelisahan Penafsiran Konstitusi (opini)

wajah-konstitusiPerdebatan yang sering terjadi di dalam bagaimana menentukan makna dari suatu teks konstitusi yakni bagaimana menentukan makna suatu prasa atau kalimat teks konstitusi. Para ahli konstitusi disibukkan dengan permasalahan yang terus terulang yakni pencarian bentuk dan arti teks konstitusi, menyelusuri maksud dan tujuan dari perancang konstitusi dan menaruh perhatian khusus terhadap nilai-nilai para perancang konstitusi. Usaha memberikan makna atas konstitusi tersebut, tergiring dan terjebak dalam kebenaran-kebenaran metode-metode penafsiran. Maka yang hadir adalah pertanyaan apa yang harus kita lakukan atau apa yang harus kita lakukan di dalam interpretasi. Objektivitas di ukur dengan cara atau alat memahami teks itu sendiri, yang berujung kepada kategori-kategori metode yang masing-masing memiliki klaim kebenaran-kebenaran. Baca selanjutnya…

HERMENEUTIKA HUKUM

April 2, 2013 1 komentar

BerfikirHermeneutika Hukum

Interpretasi dalam pandangan ahli hukum memiliki kesamaan paralel dengan hermenetika.[1] Hermenetika secara umum dapat didefinisikan sebagai disiplin yang berkenaan dengan teori tentang penafsiran. Pengertian teori disini tidak hanya untuk menunjuk suatu eksposisi metodologis tentang aturan-aturan yang membimbing penafsiran-penafsiran teks.[2] Akan tetapi, istilah teori juga merujuk kepada filsafat dalam pengertian yang lebih luas karena tercakup di dalamnya tugas-tugas menganalisa segala fenomena dasariah dalam proses penafsiran atau pemahaman manusia.[3] Hermeneutik pada dasarnya berhubungan dengan bahasa. Kita befikir melalui bahasa, berbicara dan menulis melalui bahasa, mengerti dan membuat interpretasi dengan bahasa. Hermeneutik adalah cara baru untuk ‘bergaul’ dengan bahasa. Sebagaiman diungkapkan oleh Gadamer, bahasa harus dipahami sebagai sesuai yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. Wilhelm Dilthey menyatakan kata-kata ataupun ungkapan mempunuai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud.[4] Jadi pengungkapan mana bahasa merupakan pusat sentral kegitan hermeneutik.


Baca selanjutnya…

MAHASISWA…?

November 9, 2011 7 komentar

Mahasiswa…..?

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” Soe Hok Gie

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja…. Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar…. Terimalah dan hadapilah.” Soe Hok Gie

Siapa “Mahasiswa”? Secara umum mahasiswa merupakan gelar/panggilan yang diberikan kepada sesorang yang sedang menempuh studi di sebuah perguruan tinggi. Tingkat pendidikan yang ditempuh oleh mahasiswa merupakan jenjang tertinggi yang merupakan kelanjutan dari proses belajar dari tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. Hal ini berarti mahasisiwa hanyalah merupakan peserta didik pada suatu perguruan tinggi, maka fungsi dan tugas mahasiswa adalah studi/belajar. Bentuk nyata antara lain mengikuti proses belajar mengajar yakni perkuliahan, menerima materi, memperjari materi, mengevaluasi materi dan memperoleh nilai atas proses yang di jalani tersebut. Proses studi/belajar tersebut selain di dapat dalam bentuk formal, mahasiswa juga dapat memperdalam, mengembangkan dan mengatualisasikan keilmuannya dalam bentuk informal yakni kegiatan yang diselenggarakan diluar proses belajar mengajar seperti seminar, lokakarya, pelatihan, workshop atau mengikuti kompetisi/lomba yang sesuai dengan keilmuan.

Baca selanjutnya…

ILMU HUKUM “SUI GENERIS”

September 14, 2011 Tinggalkan komentar

Ilmu hukum adalah “SUI GENERIS” 

Berhubungan dengan tulisan sebelumnya tentang Etnografi, maka dianggap perlu adanya suatu tulisan yang menekankan pada metode penelitian hukum. Metode penelitian hukum bertumpu pada metode doktinal dalam kajian hukum positif, penggunaan metode diluar hukum “metode empiris” –salah satunya etnografi yg pernah di bahasa dalam blog ini- dapat digunakan selama diperlukan. Penggunaan metode dalam prespektif yang berbeda harus dijelasakan dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Positivisme yang dirintis A. Comte menyatakan bahwa hukum berkembang melalui tiga tahap (law of the three stages) yakni tahap teologis, tahap metafisi dan tahap positif. Positivisme memiliki lima asumsi dasar yaitu: (i) Asumsi pertama adalah logika empirisme. Dalam konteks ini, positivisme menyakini bahwa setiap kebenaran harus melewati pembuktian secara empiris; (ii) Asumsi kedua adalah realitas objektif. Realitas dalam positivisme adalah segala sesuatu yang berobjek kajian tunggal; (iii) Asumsi ketiga adalah reduksionisme. Sesuatu yang tidak dapat direduksi dipandang bukan objek kajian ilmiah; (iv) Asumsi keempat adalah determinisme. Sesuatu bersifat determinan apabila tunduk pada hukum sebab-akibat (kausalitas); (v) Asumsi kelima adalah bebas nilai. (Shidarta, Positivisme hukum, 2007, hlm. 2-3). Baca selanjutnya…

METODE ETNOGRAFI

Agustus 21, 2011 1 komentar

 Metode Etnografi 

A.   Pendahuluan

Dalam bangunan disilin hukum, ilmu-ilmu hukum bukan hanya ilmu hukum normatif tetapi juga ilmu hukum empirik. Meuwissen, menjelaskan bahwa dalam pengembanan ilmu hukum salah satu aspeknya adalah pengembanan hukum teoritikal.[1] Pengembanan hukum teoritikal adalah kegiatan akal budi untuk memperoleh penguasaan intelektual atas hukum atau pemahaman hukum secara ilmiah.[2] Pengembanan hukum secara teoritikal dibedakan atas 3 (tiga) hal yakni ilmu-ilmu hukum, teori hukum dan filsafat hukum. Ilmu-ilmu hukum merupakan ilmu yang  paling rendah abstraksinya. Ilmu-imu hukum terdiri atas ilmu hukum normatif dan ilmu hukum emprik.

Ilmu hukum normatif, disebut pula dengan istilah dogmatikal hukum (Rechtsdogmatiek) istilah lainnya ilmu hukum praktikal atau ilmu hukum postif. Fokus kajiannya adalah pada hukum yang berlaku das Solleh-Sein.[3] Ilmu hukum empiris mempelajari hukum sebagai perikelakuan atau sikap tindak. Mempelajari hukum dengan pendekatan eksternal, yakni bearti titik tolaknya mengamati berlakunya hukum di dalam masyarakat, fokus kajiannya adalah pada hukum yang berlaku Das sein-Sollen. Ilmu tentang kenyataan terdiri dari: Sosiologi Hukum, Antropologi Hukum, Psikologi Hukum, Perbandingan Hukum dan Sejarah Hukum.[4] Baca selanjutnya…

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.